Menurut Gubernur Otoritas Pariwisata Thailand, Thapanee Khiatpaibool, kontribusi wisatawan dari Timur Tengah tumbuh sekitar 17–18% dan menjadi motor baru peningkatan pendapatan pariwisata. “Kami perlu menambah volume kunjungan dan jumlah penerbangan dari kawasan ini,” jelasnya pada Senin (14/7).
Target kunjungan wisatawan asing tahun 2025 diturunkan dari 40 juta menjadi 35 juta orang karena lemahnya permintaan dari China. Pendapatan pariwisata diproyeksikan mencapai 2,8 triliun baht (Rp1.246 triliun), dengan 1,6 triliun baht berasal dari turis mancanegara dan sisanya dari wisatawan lokal.
Data Kementerian Pariwisata dan Olahraga menunjukkan bahwa jumlah wisatawan China yang datang ke Thailand pada paruh pertama 2025 hanya 2,3 juta orang, menurun dibandingkan 3,4 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan ini dikaitkan dengan kekhawatiran keamanan setelah insiden penculikan aktor China yang melibatkan wilayah Thailand.
Meski China tetap menjadi pasar utama, Otoritas Pariwisata kini juga membidik kawasan lain seperti Oseania dan Asia Tenggara untuk mendorong pemulihan. Diversifikasi pasar ini dinilai penting untuk menjaga stabilitas sektor pariwisata.
Pada 2026, Thailand akan mulai menerapkan pendekatan “nilai dibanding volume,” dengan menargetkan wisatawan berkualitas tinggi—yakni mereka yang memiliki daya belanja tinggi dan dampak rendah terhadap lingkungan. Hingga 6 Juli 2025, jumlah wisatawan yang berkunjung tercatat 17,2 juta orang, turun 5,1% dari tahun sebelumnya, dengan pendapatan mencapai 794,7 miliar baht.
